Rumah Belajar, Mimpi Membangkitkan Teknologi untuk Nyala Api Pendidikan Indonesia

Tidak terasa, Rumah Belajar memasuki usia ke-9 tahun pada 15 Juli 2020 ini. Di tengah pandemi Covid-19, Rumah Belajar menyumbangkan kontribusi besar untuk menjaga nyala api peserta didik di seluruh penjuru Indonesia.

Saya mengingat betul, bagaimana tantangan pada masa-masa awal proses membangun Rumah Belajar. Hambatan tidak pernah berhenti menghadang, akan tetapi tim Rumah Belajar selalu menemukan solusi, selalu mencari cara untuk mengubah arus tantangan menjadi peluang.

Kini, Rumah Belajar yang merupakan unit layanan di bawah Pusdatin Kemendikbud, dipercaya publik secara luas. Rumah Belajar menjadi rujukan pada pelajar kita, peserta didik, guru dan orang tua siswa, serta komunitas pembelajaran untuk mengakses fitur-fitur pembelajaran yang menyenangkan.

Rumah Belajar diakses sekitar 61 juta pengguna sepanjang 2019. Pada 2020, terjadi peningkatan sangat signifikan dengan naiknya akses sebanyak 150 juta dilihat pengguna hingga juni 2020. Angka ini terus meningkat, yang saya yakin jumlahnya akan berlipat-lipat dibanding tahun kemarin. Proses belajar dari rumah, dengan sistem pembelajaran daring, memungkinkan peningkatan signifikan dalam penggunakan aplikasi digital, khususnya Rumah Belajar.

Dari riset yang ada, Rumah Belajar merupakan aplikasi yang populer digunakan oleh peserta didik. Dari data riset Puslitbang Kemendikbud yang terpublikasi beberapa waktu lalu, Rumah Belajar berada pada posisi di antara aplikasi paling populer yang diakses oleh komunitas pendidikan selama ini.

Aplikasi Rumah Belajar diakses sebanyak 13,8 % dari pengguna aplikasi pembelajaran digital. Kita mengetahui, beberapa start-up mendapat dukungan pendanaan dari beberapa ventura internasional, dengan tim besar dan promosi yang massif. Iklan-iklan start-up lain memenuhi beberapa media televisi untuk menggaet simpati dan engangement publik.

Namun, peningkatan signifikan dari Rumah Belajar yang diakses jutaan peserta didik, pendidik dan orang tua selama beberapa bulan terakhir, cukup membanggakan. Saya mengetahui betul, tim Rumah Belajar sudah bekerja keras sejak lama, dengan mencari format yang tepat sebagai aplikasi pembelajaran digital yang mudah dan menyenangkan digunakan.

Ibaratnya, tim Rumah Belajar sudah lebih dulu berjalan ketika yang lain masih merangkak, sudah lebih dulu berlari dan melesat kencang ketika yang lain baru belajar berjalan. Dengan kerja keras, semangat, tim solid, ide-ide cerdas, kreatifitas, sekaligus juga keberanian melangkah dan berinovasi, dapat terbayar dengan melejitnya Rumah Belajar sebagai aplikasi pembelajaran digital yang termasuk kategori sangat populer.

Rumah Belajar melesat jauh di atas aplikasi-aplikasi pembelajaran dari beberapa start-up ternama. Semisal Quipper, Zenius, Sekolahmu, Edmodo, Brainly dan beberapa aplikasi lain dengan modal ventura yang besar. Beberapa start-up yang fokus pada pendidikan, memang menjadikan Indonesia sebagai laboratorium data dan perluasan marketing, mengingat potensi yang besar di negeri ini.

Meski demikian, Rumah Belajar bisa mengalahkan beberapa start-up itu dengan kinerja dan kegigihan tim yang ada. Sebagai produk layanan yang dikelola Pusdatin Kemendikbud, Rumah Belajar menjawab mimpi bahwa aplikasi pembelajaran dari Indonesia, dalam konteks ini dari Kemendikbud, bisa menjawab mimpi tentang kebangkitan teknologi digital kita.

Rumah Belajar terus berkembang dengan inovasi-inovasinya. Di antara fitur-fitur unggulan yang dapat diakses oleh peserta didik dan guru di antaranya Sumber Belajar, Kelas Digital, Laboratorium Maya, dan Bank Soal. Beberapa platform ini tersedia untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat. Tentu, Rumah Belajar terus mengembangkan diri dengan meningkatkan kualitas, memperbaiki layanan, hingga inovasi teknologi, serta produksi konten-konten yang menarik.

Pandemi Covid-19 mengubah lanskap seluruh dunia, tak terkecuali di dunia pendidikan. World Bank menyelenggarakan riset terkait dengan pembelajaran digital selama pandemi Covid-19, serta prediksi untuk masa depan pendidikan di pelbagai belahan dunia. Data dari World Bank, penggunaan teknologi secara berbeda-beda digunakan di tiap negara, dari aplikasi digital, televisi hingga radio.

Di China, World Bank mencatat, ada lebih 200 juta peserta didik yang memulai belajar untuk semester depan dengan sistem online. Pemerintah China memperluas akses internet ke sejumlah kawasan, menggratiskan 24.000 kursus online yang tersedia dalam 22 platform. Selain itu, pemerintah China juga menggaransi online security dan akses data, bekerjasama dengan beberapa provider telekomunikasi.

Sementara di Finlandia, penggunaan aplikasi digital untuk pembelajaran juga meningkat drastis. Meski, pemerintah Finlandia memberi kebebasan pada tiap sekolah untuk menciptakan sistem yang mengadopsi konteks setempat. Namun, ada beberapa aplikasi populer yang digunakan: Moodle, Ville, Teams, O365, Google Classroom, Zoom dan Skype.

Di sisi lain, ada hal yang unik dari Finlandia. Pemerintah Finlandia mengembangkan aplikasi museum digital dan akses perpustakaan online yang memungkinkan warga mengakses secara gratis. Bahkan, museum digital menjadi inovasi yang sangat menarik, sebagai media pembelajaran edukatif merespon pandemi Covid-19.

Rumah Belajar, ‘Rumah Teknologi dan Mimpi untuk Semua’
Di usia 9 tahun Rumah Belajar, saya ingin sampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim Rumah Belajar serta seluruh keluarga besar Pusdatin Kemendikbud. Pencapaian sekarang ini harus terus kita tingkatkan, dengan menjaga tim yang solid, fokus, kreatif dan menyerap inovasi.

Kini saatnya berkolaborasi dan bersinergi. Seluruh unit layanan pembelajaran dari Pusdatin Kemendikbud sudah selayaknya menangkap ‘nafas zaman’ dengan kolaborasi lintas tim, lintas institusi. Rumah Belajar, TV Edukasi, Radio Edukasi, dan unit-unit lain sudah saatnya bergerak dalam platform kolaborasi di zaman digital ini. Dengan demikian, kolaborasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan membesarkan produk kita.

Di tengah situasi dunia yang berubah ini, tim Pusdatin Kemendikbud seharusnya menjadi anak zaman, yang kontekstual di era digital. Kini, kita perlu menjadikan semua pihak sebagai guru kita, seraya menjaga nyala api belajar peserta didik semua. Mari, jadikan Rumah Belajar sebagai rumah bagi semua untuk menanam mimpinya, mengasah skillnya, selaligus ruang belajar untuk menggapai cita-citanya (*).

M. Hasan Chabibie, Praktisi Pendidikan, Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud.

Sumber : https://pusdatin.kemdikbud.go.id/

Uji Coba KSN-Provinsi Jenjang SMA

Jakarta, Kemendikbud — Olimpiade Sains Nasional (OSN), yang saat ini berganti nama menjadi Kompetisi Sains Nasional (KSN), merupakan satu dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) yang menjadi wadah penyaluran bakat peserta didik. Mekanisme KSN dilaksanakan melalui seleksi berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, nasional hingga Internasional.

KSN-Provinsi (KSN-P) tahun 2020 dalam masa pandemi COVID-19 tetap digelar. Uji coba KSN-P secara daring dilaksanakan secara serentak dalam 2 (dua) tahap, yaitu tahap ke-1 pada tanggal 20–21 Juli 2020, dan tahap ke-2 pada tanggal 27-29 Juli 2020. Uji coba ini diharapkan dapat menjadi persiapan yang baik menuju pelaksanaan KSN-P yang akan diselenggarakan pada tanggal 10-14 Agustus 2020.

Uji coba KSN-P secara daring mempunyai prinsip-prinsip yang perlu diketahui oleh peserta. Prinsip-prinsip tersebut yaitu: 1). Setiap peserta wajib mengikuti uji coba KSN-P; 2). Uji coba tidak menggugurkan keikutsertaan peserta; 3). User-ID dan password adalah rahasia peserta; 4). Peserta wajib mengunggah surat/pernyataan integritas dimulai pada saat pelaksanaan uji coba tahap ke-2; dan 5). Tetap berprestasi dari rumah.

Hasil survei yang dilakukan oleh Puspresnas, anak-anak Indonesia tetap mengharapkan ada KSN tingkat provinsi dan tingkat nasional. Mereka (terutama yang telah lolos ke tingkat provinsi) memiliki semangat pantang menyerah untuk beradaptasi dengan kondisi di mana mereka harus berada dan belajar dari rumah. Pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama dengan Puspresnas untuk tetap melayani anak-anak berprestasi dengan melakukan inovasi penyelenggaran kompetisi secara daring, yang belum pernah dilakukan sebelumnya, bahkan untuk level internasional.

Pelaksana Tugas Kepala Puspresnas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Asep Sukmayadi mengatakan, semangat peserta didik untuk berprestasi tidak boleh padam di tengah pandemi Covid-19, termasuk berprestasi di bidang sains. Puspresnas senantiasa memberikan layanan pengembangan bakat dan minat peserta didik untuk bidang sains yang mencakup sembilan bidang lomba KSN  pada jenjang SMA/MA yaitu, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Astronomi, Kebumian, Geografi dan Ekonomi.

“Sebanyak 13.819 siswa SMA/MA akan mengikuti uji coba KSN-P secara daring, mereka terseleksi dari 148.050 siswa yang telah mengikuti KSN tingkat kabupaten/kota pada tanggal 10 Maret 2020. Sekarang, peserta didik tersebut akan melanjutkan kompetisi di tingkat provinsi dengan cara daring, dengan demikian siswa tetap bisa berprestasi dari rumah dengan mengutamakan protokol kesehatan,” terang Asep pada saat membuka kegiatan uji coba tahap ke-1 KSN-P secara daring untuk jenjang SMA/MA yang disiarkan di kanal media sosial Puspresnas.

Penyelenggaraan KSN-P saat pandemi tahun ini adalah ujian gotong royong semua pihak untuk membangun semangat pantang menyerah anak-anak Indonesia, tetap tekun belajar dan berprestasi dari rumah dengan penuh integritas. Ajang ini juga tetap diharapkan dapat menghasilkan talenta-talenta unggul Indonesia untuk dibina kembangkan sebagai Tim Olimpiade Sains Indonesia yang akan  berkiprah di ajang internasional tahun depan.

KSN-P secara daring juga diharapkan akan dapat menjadi pelajaran berharga untuk melakukan inovasi merdeka belajar dalam bidang sains di masa pandemi sehingga mutu pendidikan Indonesia dapat terus berkembang. KSN-P tahun ini juga akan menjadi masukan berharga untuk mewujudkan Manajemen Talenta Nasional (MTN) sebagaimana telah diamanatkan di dalam RPJMN 2020-2024.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak berprestasi di tingkat provinsi diharapkan tetap bersemangat karena memiliki alternatif lebih untuk berprestasi dalam suasana belajar dari rumah selama ini.  Fantasi anak-anak Indonesia untuk menjadi juara di ajang ini tetap dapat diuji dan diwujudkan,” tutur Asep.

Ia berharap, melalui ajang ini dapat membangun semangat anak-anak Indonesia untuk selalu tangguh, pantang menyerah, dan terus berprestasi dalam kondisi apapun. “Mudah-mudahan ini akan menjadi “imun” tersendiri bagi anak-anak Indonesia sehingga mereka mampu melewati kondisi pandemi ini dengan tetap berprestasi, bugar dan sehat,” tutup Asep.

Jakarta, 20 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#BelajardariRumah
#BersamaHadapiKorona
Sumber : SIARAN PERS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 187/Sipres/A6/VII/2020

Rilis Aplikasi Dapodik Versi 2021

Yth. Bapak/Ibu

  1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
  2. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi
  3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  4. Kepala LPMP
  5. Kepala PP/BP PAUD dan Dikmas
  6. Kepala PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan PKBM

di seluruh Indonesia

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pemutakhiran data semester 1 tahun ajaran 2020/2021 dilaksanakan menggunakan aplikasi terbaru yang saat ini dirilis yaitu Aplikasi Dapodik versi 2021. Integrasi data dan pembaruan aplikasi telah dilaksanakan agar Aplikasi Dapodik versi 2021 dapat digunakan untuk pengumpulan data dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan khusus, dan pendidikan kesetaraan.

Aplikasi Dapodik versi 2021 telah menggunakan database versi baru yang dirilis dalam bentuk installer (tidak ada versi updater). Untuk itu secara teknis diharuskan melakukan uninstall Aplikasi Dapodik versi sebelumnya terlebih dahulu.

Kode registrasi Aplikasi Dapodik untuk satuan pendidikan pada jenjang PAUD (TK, KB, TPA, SPS) dan pendidikan kesetaraan (SKB/PKBM) telah diubah menjadi kode registrasi format baru yang akan didistribusikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Akun petugas pendataan tidak mengalami perubahan, sehingga akun pada aplikasi sebelumnya dapat digunakan untuk registrasi pada Aplikasi Dapodik versi 2021.

Catatan untuk satuan pendidikan SKB/PKBM, Aplikasi Dapodik versi 2021 belum dapat mengakomodasi peserta didik yang mengikuti dua program pendidikan dalam waktu yang sama (contoh: peserta didik terdaftar di rombel paket C dan kursus). Fitur ini akan diakomodasikan pada rilis berikutnya.

Berikut adalah daftar perubahan pada Aplikasi Dapodik versi 2021:

  1. [Pembaruan] Penyesuaian aplikasi setelah penggabungan antara Dapo PAUD-Dikmas dan Dapodikdasmen.
  2. [Pembaruan] Penambahan data rinci PAUD khusus untuk jenjang PAUD.
  3. [Pembaruan] Penambahan Program dan Layanan untuk jenjang PKBM dan SKB.
  4. [Pembaruan] Penambahan tabulasi sertifikasi PD pada data rinci peserta didik untuk jenjang SMA dan SMK
  5. [Pembaruan] Penambahan referensi status desa berdasarkan Kepmendikbud Nomor 580/P/2020.
  6. [Pembaruan] Penambahan fitur tarik data pada proses sinkronisasi guna menurunkan semua perubahan yang terjadi hanya pada data yang berada di server.
  7. [Pembaruan] Penambahan metode penarikan data pada API web service.
  8. [Pembaruan] Penambahan atribut tanggal mulai dan tanggal selesai pada isian rombongan belajar untuk PKBM dan SKB.
  9. [Pembaruan] Penambahan security pada aplikasi.
  10. [Pembaruan] Penambahan fitur untuk mengisi e-form kesiapan satuan pendidikan.
  11. [Pembaruan] Penambahan fitur untuk mengecek dan membuka Aplikasi PMP.
  12. [Pembaruan] Integrasi output data hasil PPDB daerah.
  13. [Pembaruan] Kelulusan bersama pada tingkat akhir untuk kelas TK B, 6, 9 dan 12/13.
  14. [Pembaruan] Generate ulang kode registrasi sekolah untuk jenjang PAUD.
  15. [Perbaikan] Perubahan instrumen sanitasi sesuai target SDGs.
  16. [Perbaikan] Penonaktifan kurikulum 2006 (KTSP) dan wajib menggunakan kurikulum 2013. Bagi SMK wajib menggunakan kurikulum 2013 REV.
  17. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis perekaman GTK untuk pertama kali dikelola oleh Pusdatin.
  18. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis pembuatan/perubahan akun GTK untuk jenjang SMP, SMA, SMK dan SLB.
  19. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis bagi SMK tingkat 10 wajib memilih jurusan kompetensi keahlian.
  20. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis bagi SMK yang diperkenankan membuka kelas terbuka hanya pada tingkat 12 saja.
  21. [Perbaikan] Perbaikan validasi pada GUI pada saat mengeluarkan siswa yang aktif.
  22. [Perbaikan] Perbaikan pengisian rombongan belajar praktik pada jenjang SMK.
  23. [Perbaikan] Perbaikan pengisian formulir pada peserta didik.
  24. [Perbaikan] Perbaikan pengisian formulir pada GTK
  25. [Perbaikan] Perbaikan fitur ubah pada ruang praktik kerja/bengkel pada jenjang SMK.
  26. [Perbaikan] Penyesuaian formulir pada halaman registrasi.
  27. [Perbaikan] Penutupan isian akreditasi prodi pada jenjang SMK.
  28. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis pengisian tingkat kerusakan bangunan.
  29. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis pengisian tingkat kerusakan ruang.
  30. [Perbaikan] Perubahan proses bisnis pengisian riwayat pendidikan formal kualifikasi S1 pada GTK.

Panduan Aplikasi Dapodik versi 2021 yang dapat diunduh di menu unduhan laman dapodik atau pada bagian lampiran berita ini yang memuat petunjuk teknis instalasi, registrasi online/registrasi offline, serta deskripsi dari setiap perubahan dan perbaikan pada Aplikasi Dapodik versi 2021.

Selanjutnya bagi segenap Bapak/Ibu Kepala Sekolah agar segera menugaskan Petugas pendataan untuk melakukan upgrade ke Aplikasi Dapodik versi 2021 dan melakukan pemutakhiran data semester 1 tahun ajaran 2020/2021. Pemutakhiran data dilakukan paling lambat pada Senin, 31 Agustus 2020 (Penarikan data untuk program BOS) dan pada Rabu, 30 September 2020 (Penarikan data untuk program BOP) dengan tetap menjaga kualitas data.

Demikian informasi yang kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Satu Data Pendidikan Indonesia,

Admin Dapodik

LAMPIRAN

1. Link unduha Aplikasi Dapodik Versi 2021

2. Panduan Aplikasi Dapodik versi 2021

Penataan Akun Petugas Pendataan Dapodik

Yth. Bapak/Ibu

  1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
  2. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi
  3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  4. Kepala PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan PKBM

di seluruh Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Dalam rangka penataan akun petugas pendataan Dapodik, setiap sekolah diharuskan menggunakan email aktif dan tidak digunakan oleh sekolah yang lain. Perlu kami sampaikan bahwa terdapat akun petugas pendataan di daerah Bapak/Ibu terdeteksi menggunakan email yang tidak valid atau berganda dengan sekolah lain, sehingga akun petugas pendataan tersebut telah dihapus dari database Dapodik.

Daftar sekolah yang saat ini tidak memiliki akun petugas pendataan di database Dapodik telah dikirim ke email admin dapodik Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota atau dapat diunduh pada lampiran berita ini. Sekolah yang terdampak oleh penataan akun petugas pendataan Dapodik akan menerima pemberitahuan berupa SMS broadcast.

Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota diharapkan melakukan langkah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi kepada sekolah dalam daftar untuk mengajukan akun petugas pendataan menggunakan email yang baru.
  2. Memberikan layanan tambah data akun petugas pendataan di manajemen dapodik pada laman https://datadik.kemdikbud.go.id

Demikian informasi yang kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Satu Data Pendidikan Indonesia,

Admin Dapodik

LAMPIRAN

Tautan unduhan daftar sekolah yang terdampak oleh penataan akun petugas pendataan Dapodik

A. Satuan Pendidikan SMA, SMK, dan SLB

(pilih salah satu sesuai provinsi) klik disini 

B. Satuan Pendidikan PAUD, SKB, PKBM, SD dan SMP

 (pilih salah satu sesuai Provinsi dan Kabupaten/Kota)

  1. Prov. Aceh
  2. Prov. Bali
  3. Prov. Banten
  4. Prov. Bengkulu
  5. Prov. D.I. Yogyakarta
  6. Prov. D.K.I. Jakarta
  7. Prov. Gorontalo
  8. Prov. Jambi
  9. Prov. Jawa Barat
  10. Prov. Jawa Tengah
  11. Prov. Jawa Timur
  12. Prov. Kalimantan Barat
  13. Prov. Kalimantan Selatan
  14. Prov. Kalimantan Tengah
  15. Prov. Kalimantan Timur
  16. Prov. Kalimantan Utara
  17. Prov. Kepulauan Bangka Belitung
  18. Prov. Kepulauan Riau
  19. Prov. Lampung
  20. Prov. Maluku
  21. Prov. Maluku Utara
  22. Prov. Nusa Tenggara Barat
  23. Prov. Nusa Tenggara Timur
  24. Prov. Papua
  25. Prov. Papua Barat
  26. Prov. Riau
  27. Prov. Sulawesi Barat
  28. Prov. Sulawesi Selatan
  29. Prov. Sulawesi Tengah
  30. Prov. Sulawesi Tenggara
  31. Prov. Sulawesi Utara
  32. Prov. Sumatera Barat
  33. Prov. Sumatera Selatan
  34. Prov. Sumatera Utara